Kecelakaan Lalu Lintas Meningkat Saat Bulan Purnama

Kecelakaan Lalu Lintas Meningkat Saat Bulan Purnama

Di Indonesia, sepeda motor merupakan kendaraan yang sangat umum dijumpai. Tapi siapa sangka ada waktu tertentu yang membahayakan untuk berkendara dengan sepeda motor, yaitu saat bulan purnama.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal BMJ tersebut menjelaskan bahwa saat pemandangan pinggir jalan di bawah malam yang terang benderang mungkin indah, tapi juga bisa membahayakan perhatian.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti dari Amerika dan Kanada menunjukkan bukti peningkatan risiko kecelakaan sepeda motor saat bulan purnama. Hal ini dibandingkan dengan saat malam yang tidak begitu indah.

Para peneliti mengakui bahwa mungkin ada faktor pembaur yang bermain dalam hal ini. Tapi mereka mengingatkan bahwa berkendara selama bulan purnama dapat menganggu dan menganjurkan pengendara sepeda motor berhati-hati dan menjaga mata mereka di jalan.

"Kesadaran akan risiko tersebut dapat mendorong pengendara motor lebih berhati-hati selama bulan purnama dan, lebih umum lagi, untuk memahami gangguan yang terlihat kecil setiap saat," kata Donald Redelmeier, Ph.D dan Eldar Shafir, Ph.D, penulis penelitian tersebut dikutip dari Inverse, Minggu (31/12/2017).

Mereka menggunakan catatan kecelakaan kendaraan bermotor dari 1975 hingga 2014 di Amerika Serikat. Mereka membandingkan jumlah kecelakaan sepeda motor yang terjadi pada malam bulan purnama dengan jumlah korban jiwa yang terjadi pada satu minggu sebelum dan sesudah purnama.

Dari 13.029 korban jiwa selama masa studim terjadi lebih dari 1.482 malam yang relevan, mereka menemukan peningkatan sederhana pada malam bulan purnama.

Sebanyak 4.494 kecelakaan fatal terjadi pada 494 malam bulan purnama. Sedangkan 8.535 kecelakaan terjadi pada 988 malam tanpa bulan purnama.

Ini berarti rata-rata 9,10 kecelakaan setiap malam bulan purnama. Sedangkan 8,64 kecelakaan terjadi setiap malam tanpa bulan purnama.

Mungkin peningkatan kecelakaan tersebut terlihat kecil, tapi ini adalah salah satu yang terjadi dalam jangka waktu cukup lama. Jadi, kita tak bisa menolaknya.

Tak hanya di Amerika Serikat, peneliti juga menemukan hal serupa dalam data dari Kanada, Australia, dan Inggris.

Para peneliti mencatat bahwa temuan mereka menegaskan bahaya dari teralihkan, terutama peningkatan risiko selama supermoon. Jika Anda memang harus berkendara dengan sepeda motor saat bulan purnama, ada baiknya untuk lebih berhati-hati.

Read more →

4 Obat Kemoterapi yang Bisa Buat Rambut Rontok

4 Obat Kemoterapi yang Bisa Buat Rambut Rontok

Penyebab utama rambut rontok saat perawatan kanker adalah obat-obat sitotastik.

Sebagai bagian dari kemoterapi untuk pasien kanker, obat-obatan ini berfungsi untuk menghentikan atau memperlambat perkembangan sel kanker yang ada di dalam tubuh.

Caranya, dengan membasmi sel-sel yang melakukan pembelahan atau mencegah pertumbuhan sel kanker dengan cepat. Sayangnya, obat-obatan ini juga menyerang sel-sel lainnya yang tidak berbahaya, termasuk sel di folikel atau kelenjar rambut kita.

Namun, sebetulnya tidak semua jenis obat untuk perawatan kanker menyebabkan kerontokan rambut.

Berikut adalah beberapa jenis yang sering digunakan dalam kemoterapi kanker payudara dan menimbulkan efek samping tersebut:

1. Adriamycin, dengan kode A atau dalam kemoterapi disebut CAF (Cytoxan, Adriamycin and Fluorouracil). Obat ini memiliki efek samping kebotakan pada kepala, alis dan bulu mata.

2. Methotrexate, dengan kode M atau dalam kemoterapi disebut CAM (Complementary and Alternative Medicine). Obat ini memiliki efek samping penipisan rambut tetapi tidak seluruh pasien mengalaminya. Jarang sekali pasien yang melalui metode pengobatan ini mengalami kebotakan.

3. Cytoxan dan 5-fluorouraci memiliki efek samping penipisan rambut hingga kerontokan rambut dalam jumlah banyak.

4. Taxol memiliki efek samping kebotakan di seluruh bagian tubuh yang berambut, termasuk kepala, alis, bulu mata, tangan, dan kaki, serta bulu kemaluan.

Selain menyebabkan kerontokan, obat-obatan di atas juga bisa menyerang sel darah di dalam tubuh.

Dilansir dari laman www.chemotherapy.com, kemoterapi juga akan memengaruhi sel darah putih yang berfungsi melindungi tubuh dari serangan infeksi. Apabila jumlah sel darah putih berkurang, pasien akan mengalami neutropenia, atau rentan akan infeksi.

Kemoterapi juga menyerang perkembangan sel darah merah, dan kekurangan sel darah merah dapat menyebabkan anemia. Akibatnya, pasien menjadi cepat letih, dan mengalami sakit dada atau penyakit komplikasi yang lebih serius.

Kandungan trombosit di dalam darah pun bisa ikut terganggu. Padahal, trombosit sangat dibutuhkan tubuh untuk proses pembekuan darah saat pendarahan. Kekurangan trombosit disebut trombositopenia dan membuat pasien mudah mengalami luka dan pendarahan. 

Kemoterapi juga akan mempengaruhi sel-sel di dalam saluran pencernaan dan pasien akan sering mengalami mual, muntah, dan diare.

Read more →

 

Copyright © Hardan Sharing | Powered by Blogger | Template by 54BLOGGER | Fixed by Free Blogger Templates